Minggu, 24 Juli 2011

Efektifitas Ibadah

Setiap ibadah yang disyariatkan dijamin pasti membawa manfaat bagi setiap muslim yang mengamalkannya. Sebagai contoh, dzikir, dijamin oleh Allah Swt pasti membahagiakan (Q.S. Ar-Ra’ad: 28). Ibadah shalat disebutkan oleh Allah Swt sebagai pencegah dari perbuatan fahsya’ (zina dan seluruh pendahuluannya) dan munkar (seluruh bentuk dosa). (Q.S. Al-Ankabut : 45).
Ibadah shaum disyari’atkan oleh Allah Swt untuk mencapai tingkat taqwa yang optimal. Ibadah zakat diwajibkan untuk mensucikan hati dari sifat  bakhil dan serakah dan membersihkan harta dari hak orang lain. (Q.S. At-Taubah : 103). Secara umum seluruh ibadah dan amal shaleh berkhasiat sebagai penenang hati dan penghapus dosa.
Keyakinan ini sepatutnya menjadi dasar evaluasi dan introspeksi bagi kita, untuk mengukur seberapa besar manfaat ibadah itu terasa dalam hidup kita. Oleh karena semangat ibadah kita berbanding lurus dengan khasiatnya  dalam diri kita. Artinya, semakin terasa ni’mat ibadah itu, semakin besar pula keinginan kita untuk terus menikmatinya. Dan kiranya inilah dari pertanyaan mengapa kita cenderung malas beribadah? Malas beramal? Karena kita belum merasakan nikmatnya, belum mendapat kan khasiatnya, jadi, agar kita rajin beribadah, tidak ada jalan lain, temukan khasiatnya!
Kiat untuk mendapatkan manfaat ibadah dan amal shaleh ialah penghayatan ibadah melalui :
1.      Memahami fadhilah (Keutamaan) Ibadah.
2.     Meyakini fadhilah Tersebut.
3.     Menghadirkan dalam benak fadhilah tersebut pada saat kita beribadah.
4.    Menghadirkan dalam benak bahwa ibadah tersebut adalah langkah mendekat kepada Allah Swt, sekaligus sebagai upaya mensucikan hati dari penyakit-penyakit dan kotoran-kotoran dosa.
5.     Memperbanyak ibadah dan amal yang berkesan, yang menggugah hati, yang sulit untuk dilupakan. Seperti ibadah atau do’a yang dibarengi dengan tangis, karena menyesali dosa dan takut pada azab Allah Swt.
Penghayatan ibadah dengan kiat-kiat di atas diharapkan akan memberi rasa nikmat pada ibadah, do’a dan amal shaleh kita. Jika kenikmatan itu telah kita rasakan, niscaya ia akan menjadi kebutuhan yang kita rindukan. Rasa butuh dan kerinduan itulah yang memotivasi kita secara kuat untuk memperbanyak ibadah dan amal shaleh, dan dari persembahan itulah kita menemukan kebahagiaan dan kedamaian hidup yang hakiki. Amin.

Keluarga kecil-qu







Bersifat alami

Manusia terbentuk dengan keadaan yang unik dan luar biasa, tak ada seorang pun yang betul-betul mirip dengan orang lain, masing-masing memiliki keunikan, kelemahan, dan kelemahannya masing-masing, bahkan orang yang lahir kembar identik. Dalam konsep Psikologi ini disebut dengan istilah Individual differences. Manusia tumbuh dan berkembang dipengaruhi oleh 3 hal.
Yang pertama adalah faktor genetik. Faktor genetik yang dimaksud di sini adalah sifat yang diturunkan oleh ayah dan ibu masing-masing orang, ketika seorang anak lahir sesungguhnya ia membawa perpaduan sifat anatara ayah dan ibunya. 
Faktor yang ke dua faktor lingkungan, yang dimaksud di sini adalah dimulai dari lingkungan terkecil si anak yaitu lingkungan keluarga sampai dengan budaya dan sejarah yang dialami oleh setiap orang yang berbeda-beda.
Faktor yang ke tiga  adalah kematangan. Kematangan yang dimaksud di sini adalah kesiapan biologis/fisik anak untuk melakukan fungsinya dengan baik. Misalnnya anak yang pertama mulai bisa berjalan pada umur 16 bulan, sedangkan adiknya sudah dapat berjalan pada usia 9 bulan, perbedaan ini akan mempengaruhi banyaknya stimulasi yang diperoleh setiap orang.
Nah, maka dari itu dapat difahami bahwa setiap orang telah memiliki kepribadiannya masing-masing, yang masing-masing orang memiliki kelemahan, kelebihan, kecenderungannya masing-masing baik itu secara fisik maupun non fisik. Sebagai contoh: setiap orang punya kelemahan organ dan kecenderungan kelemahan fisik yang akan berbeda dengan orang lain, ada orang yang lebih cenderung menderita penyakit tertentu dan tahan terhadap penyakit tertentu. begitu pula bakat, hobi dan kecenderungan secara kejiwaan memiliki perbedaannya masing-masing.
Dalam beberapa disiplin keilmuan ada yang membagi hal tersebut (baca: kepribadian, kelemahan, kelebihan dst) kepada beberapa bagian yang terbatas namun sesungguhnya hal itu tidak pernah bisa dibatasi oleh jumlah tertentu.
Jadilah diri sendiri, kenali bakat pribadi, ketahui kelemahan diri baik fisik maupun non fisik, manfaatkan kelebihan diri, dst.
Bersifat alami!