Sabtu, 31 Maret 2012

NAMANYA JUGA USAHA....

Ada kejadian yang saya anggap 'unik' yang saya jumpai saat pulang dari Kompasiana BlogShop Negara 5 Menara yang di adakan di gedung BI (Bank Indonesia) Makassar. Kejadian itu berkaitan dengan maraknya demo yang berlangsung beberapa hari belakangan ini yang berimbas pada penutupan jalan-jalan utama oleh massa yang berdemo. Jalan-jalan utama itu terdiri dari dua lajur kiri-kanan yang dibatasi oleh taman jalan yang lebarnya sekitar satu meter lebih. Nah, kejadian itu adalah, ketika saya hampir memasuki jalan yang biasa ditempati berdemo saya melihat beberapa orang kelihatan standby di tengah batas jalan sambil melambaikan tangan kepada para pengendara motor termasuk saya.
"Ada apaan nih", batin saya.
Karena saya penasaran akhirnya saya menghampiri salah seorang di antara mereka dan bertanya: "Memang ada apa nih?", tanya saya.
"Oh... di bawah (arah jalan yang akan saya lalui maksudnya, red) ada penutupan jalan, harus balik arah", jawab lelaki itu.
"Wah, repot juga kalau harus balik arah", dalam hati saya bergumam.
Sebenarnya di pagi hari saya sempat bertanya ke teman-teman yang biasanya tahu kalau ada jadwal demo, apakah hari ini akan ada demo lagi atau tidak. dari mereka saya mendapat informasi bahwa hari ini tidak ada demo, kalaupun ada tak akan seramai hari-hari kemarin dan tidak akan ada penutupan jalan. Berdasarkan hal itulah sehingga kemudian saya tidak berhenti dan memutar arah, walaupun dalam hati was-was juga, jangan sampai demo benar-benar ada.
Ternyata alhamdulillah tak ada penutupan jalan seperti yang saya khawatirkan, memang sih ada demo pas di depan jalan menuju Bandara tapi tidak sampai ada penutupan jalan sehingga kendaraan bisa lewat walaupun agak pelan.
Yang saya maksud 'unik' adalah adanya beberapa orang yang dengan cekatan bermodalkan balok atau papan agar motor bisa menyebrang di atas taman yang menjadi pembatas dua jalur kiri-kanan jalan, mereka memanfaatkan kondisi yang ada beberapa hari terakhir dengan menjual jasa "bantuan putar arah" untuk menghindari macet dan penutupan jalan, bahkan tetap berlanjut sampai hari ini yang pada kenyataannya walaupun tidak ada penutupan jalan.
Dalihnya adalah "namanya juga usaha mencari keping demi keping receh atau lembar-lembar ribuan....

Jumat, 09 Maret 2012

BELAJAR MENANGIS


Belajarlah menangis, yang dimaksud bukanlah dalam skenario drama, atau  film yang
dibuat-buat sebagai bumbu, pelengkap dan penyempurna adegan agar terlihat dramatis dan bersifat metaforis. Menangis di sini bukan pula menangis di atas panggung dan tertawa di belakang layar.
Bila orang menangis karena mendapat musibah, itu sudah biasa. jika sekali waktu ia menangis karena merasakan sakit, ini juga sering terjadi. Tangis–menangis karena suatu sebab seperti hal-hal demikian tadi adalah hal biasa dan wajar karena timbul dari rasa iba hati, rasa sedih diri, atau karena merasakan sakit.

Tetapi pernakah kita menangis tanpa sebab atau akibat yang belum pernah kita rasakan dan terjadi pada kita, atau dalam lingkungan kita? pernakah kita membayangkan suatu peristiwa yang belum tahu kejadiannya, dan tidak pernah terbayang dalam benak, kemudian karenanya lebih dulu kita menangis? boleh jadi hal demikian belum pernah terjadi. Sebab bagaimana mungkin itu terjadi kalau tidak dengan perantara  sebab dan akibat? Apa yang kita tangisi?

Tetapi belajarlah menagisi diri sendiri di hadapan Tuhan !             
Merenung sejenak sembari menyesali berbagai kekeliruan kita selama ini, kemudian mulailah belajar menangis. Air mata yang menetes di keheningan malam, di tengah suasana lantunan Do’a Istighfar berangkat dari rasa kekhawatiran kita yang dalam, pertanda kita masih punya hati nurani.

Selayaknya kita merasa sedih dan berduka kalau-kalau Allah Swt tidak berkenan dengan priaku kita selama ini. Sepatutunya kita merasa khawatir kalau-kalau amal ibadah kita tidak diterima di sisi-Nya. Bahkan, kita harus menyesal dan takut jika segala dosa-dosa kita tidak terampuni.

Belajar menangis seperti itulah yang harus dijadikan tradisi bagi setiap  muslim. tentu bukan menangisnya yang dijadiakan obyek persoalan. tapi penyesalan terhadap ibadah yang selama ini kita lalaikan. Boleh jadi, kebiasaan tersebut tak pernah atau jarang kita lakukan.

Alangkah kagumnya kita ketika kita teringat kepada kaum Salafus Shalih (orang-orang shalih terdahulu). mereka tidak hanya mengerti tapi juga meresapi dan mengamalkan seluruh ajaran Islam. Sehingga wajar ketika dibacakan ayat-ayat Allah, lalu bergetarlah hati-hati mereka.

lalu bagaimanakah dengan diri kita? Sudakah hati kita bergetar pada saat ayat-ayat suci Al-Qur’an dilantunkan? Alangkah indahnya jika kita termasuk orang-orang yang disebutkan dalam Al-Qur’an :      
“ Sesunguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karnanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal ”. (Q.S. Al-Isra’ : 109).

Hati yang mati Karena pengaruh gemerlapnya kehidupan duniawi selamanya akan menghapus perasaan khusyu’. Bila sudah sedemikian jauh, alangkah celakanya kita. karena bila dalam kehidupan kita tidak dapat menangis, maka kita akan menangis dalam kehidupan lain (Hari Kiamat), Sebagaimana Rasulullah Saw ingatkan:

 “ Setiap mata akan menangis  di hari kiamat kecuali mata yang telah menangis karena takut kapada Allah dan mata yang berjaga di jalan Allah ”.(HR. Tirmidzi).

MARI KINI KITA BELAJAR MENANGIS SEBELUM DITANGISI
ATAU MENANGISI DIRI KITA SENDIRI..