Jumat, 09 Maret 2012

BELAJAR MENANGIS


Belajarlah menangis, yang dimaksud bukanlah dalam skenario drama, atau  film yang
dibuat-buat sebagai bumbu, pelengkap dan penyempurna adegan agar terlihat dramatis dan bersifat metaforis. Menangis di sini bukan pula menangis di atas panggung dan tertawa di belakang layar.
Bila orang menangis karena mendapat musibah, itu sudah biasa. jika sekali waktu ia menangis karena merasakan sakit, ini juga sering terjadi. Tangis–menangis karena suatu sebab seperti hal-hal demikian tadi adalah hal biasa dan wajar karena timbul dari rasa iba hati, rasa sedih diri, atau karena merasakan sakit.

Tetapi pernakah kita menangis tanpa sebab atau akibat yang belum pernah kita rasakan dan terjadi pada kita, atau dalam lingkungan kita? pernakah kita membayangkan suatu peristiwa yang belum tahu kejadiannya, dan tidak pernah terbayang dalam benak, kemudian karenanya lebih dulu kita menangis? boleh jadi hal demikian belum pernah terjadi. Sebab bagaimana mungkin itu terjadi kalau tidak dengan perantara  sebab dan akibat? Apa yang kita tangisi?

Tetapi belajarlah menagisi diri sendiri di hadapan Tuhan !             
Merenung sejenak sembari menyesali berbagai kekeliruan kita selama ini, kemudian mulailah belajar menangis. Air mata yang menetes di keheningan malam, di tengah suasana lantunan Do’a Istighfar berangkat dari rasa kekhawatiran kita yang dalam, pertanda kita masih punya hati nurani.

Selayaknya kita merasa sedih dan berduka kalau-kalau Allah Swt tidak berkenan dengan priaku kita selama ini. Sepatutunya kita merasa khawatir kalau-kalau amal ibadah kita tidak diterima di sisi-Nya. Bahkan, kita harus menyesal dan takut jika segala dosa-dosa kita tidak terampuni.

Belajar menangis seperti itulah yang harus dijadikan tradisi bagi setiap  muslim. tentu bukan menangisnya yang dijadiakan obyek persoalan. tapi penyesalan terhadap ibadah yang selama ini kita lalaikan. Boleh jadi, kebiasaan tersebut tak pernah atau jarang kita lakukan.

Alangkah kagumnya kita ketika kita teringat kepada kaum Salafus Shalih (orang-orang shalih terdahulu). mereka tidak hanya mengerti tapi juga meresapi dan mengamalkan seluruh ajaran Islam. Sehingga wajar ketika dibacakan ayat-ayat Allah, lalu bergetarlah hati-hati mereka.

lalu bagaimanakah dengan diri kita? Sudakah hati kita bergetar pada saat ayat-ayat suci Al-Qur’an dilantunkan? Alangkah indahnya jika kita termasuk orang-orang yang disebutkan dalam Al-Qur’an :      
“ Sesunguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karnanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal ”. (Q.S. Al-Isra’ : 109).

Hati yang mati Karena pengaruh gemerlapnya kehidupan duniawi selamanya akan menghapus perasaan khusyu’. Bila sudah sedemikian jauh, alangkah celakanya kita. karena bila dalam kehidupan kita tidak dapat menangis, maka kita akan menangis dalam kehidupan lain (Hari Kiamat), Sebagaimana Rasulullah Saw ingatkan:

 “ Setiap mata akan menangis  di hari kiamat kecuali mata yang telah menangis karena takut kapada Allah dan mata yang berjaga di jalan Allah ”.(HR. Tirmidzi).

MARI KINI KITA BELAJAR MENANGIS SEBELUM DITANGISI
ATAU MENANGISI DIRI KITA SENDIRI..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar